/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/games/gam-12/gam1191.cur), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */ Pikachu
Pikachu

Rabu, 16 Maret 2016

Cerpen Inspiratif: Ikhlas Beramal Coz Allah


Ikhlas Beramal Coz Allah 

                 Pagi itu waktu menunjukkan pukul 05.30. Setelah semua pekerjaan dirumah selesai, Ana bersiap berangkat ke tempat yang telah dianggap sebagai rumah kedua nya. Tempat dimana insan-insan cilik menggantungkan harapan mereka padanya, menjadikannya sebagai panutan dan menjadikannya seperti orangtua kedua mereka. Tempat yang selama ini membuatnya semakin mengerti akan hakikat kehidupan dunia yang hanya sekejap mata ini.

                Bersama dengan keponakannya yang berusia 7 tahun, ia menelusuri jalan menuju pangkalan angkot yang jaraknya ± 500 m dari rumahnya. Jarak yang ditempuhnya dengan berjalan kaki dan menggunakan dua kali angkutan kota setiap hari, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menjadi pendidik di salah satu Sekolah Dasar BAI (Berbasis Aqidah Islam) di kotanya, yang ia jalani semenjak lulus dari SLTA Pesantren 6 bulan yang lalu.
                Baginya, menjadi orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar itu adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi ia diberi kesempatan dan rahmat oleh Allah menjadi pendidik bagi calon-calon generasi Islam masa depan. Kesempatan ini dapat mengalahkan keinginan banyak orang yang rela memilih pekerjaan apapun tanpa mempertimbangkan hala-haram, asalkan menguntungkan secara materi saja. Baginya, kepentingan ummat adalah hal yang harus didahulukan dibandingkan kepentingan pribadi, selama itu dilakukan dijalur yang telah Allah SWT syari’atkan.

                 Suatu malam diruang keluarga yang hangat…
“Ana, apa boleh ibu mengatakan sesuatu?” Ibunya Ana memulai percakapan.

“Boleh, Bu. Katakana saja” dengan tersenyum Ana menjawab pertanyaan ibunya, namun dihatinya bertanya-tanya.

“Ibu & Bapak senang kamu bisa menjadi seorang guru. Tapi apa kamu tidak merasa keberatan dengan gaji yang kamu terima dari pekerjaanmu ini? Ibu rasa gajimu itu tidak seberapa & sedikit, apalagi dipotong dengan ongkos setiap harinya".

Ana terdiam sejenak…

“Bukan apa-apa nak, Ibu hanya ingin kamu bisa seperti teman-temanmu yang bisa memenuhi kebutuhan mereka & mempunyai biaya sendiri untuk melanjutkan sekolah. Karena, kamu kan tahu sendiri upah kerja Bapakmu sebagai tukang kebun tidaklah seberapa. Kami tidak bisa membiayaimu untuk melanjutkan sekolah lagi.” Ibu Ana berbicara dengan wajah yang sedih.

“Bu,,,” Ana menghampiri ibunya yang sedang duduk dikursi. “Ibu tidak perlu khawatir tentang itu semua. Ana tidak mempermasalahkan upah mengajar selama ini, karena Allah-lah yang lebih mengetahui kapan kita merasa cukup dengan yang sedikit, dan kapan kita merasa butuh dengan yang banyak. Yang penting jika kita selalu bersyukur, Allah akan mencukupkan semuanya.”

Sambil menggenggam hangat tangan ibunya, Ana melanjutkan pembicaraan, “Keinginan untuk melanjutkan sekolah memang masih ada sampai sekarang, tapi Ana tidak mau memaksakannya. Ana yakin Allah punya rencana yang lebih baik untuk Ana nantinya . Ana tidak pernah mengira bisa menjadi seorang guru, sekalipun itu guru SD. Ana hanya merasa bahwa Ana adalah salah satu yang terpilih & diberi amanah oleh Allah, untuk menjadi bagian dari penggerak perubahan yang lebih baik, bagian dari penegak Dien-NYA. Amal jariyah & Ilmu yang bermanfaat bisa ana tabur dan tuai nantinya dalam profesi ini, sebagai ladang dakwah dan pahala untuk bekal menuju tempat yang lebih indah & abadi nantinya. Jannahnya Allah.” Jelas Ana dengan penuh kasih kepada Ibunya.

Kali ini Bapak Anak ikut bicara, “Kamu benar nak, ini adalah kesempatan dan amanah mulia yang diberikan Allah. Teruskanlah apa yang menurutmu baik selama itu tidak sia-sia & tidak dibenci oleh Allah”. Ungkap Bapaknya sembari tersenyum bahagia merangkul istrinya yang juga tersenyum senang.

“InsyaaAllah, terimakasih Pak, Bu” Balas Ana yang terharu karena mendapat dukungan dari kedua orangtuanya sekarang.


                  Sebagaimana komitmennya, Ana terus mengajar disekolah dengan penuh keikhlasan. Mengajarkan hal-hal yang harus diketahui anak-anak didiknya sebagai calon generasi islam yang akan senantiasa patuh kepada Robb-nya. Sehingga keberkahan selalu ada dalam hidup mereka didunia sampai akhirat. Selama ini Ana juga mencoba berjualan kue kecil-kecilan dengan penuh kesabaran sampai beberapa tahun kemudian ia sudah bisa membuka toko kue yang banyak diminati masyarakat. Ia juga bisa membeli kendaraan motor sendiri, dari hasil menabungnya selama ini ia juga bisa kuliah sambil mengajar.
                  Namun dibalik kegiatannya yang padat, ia tetap mau & mampu istiqomah memberikan waktu terbaik, tenaga terbaik & harta terbaiknya untuk dipergunakan dijalan dakwah (terutama berjama’ah). Jalan yang mensyiarkan islam agar kembali menjadi Ideologi serta Aturan hidup bagi seluruh alam. Halaqoh, kajian, mengontak masyarakat. Amalan yang satu ini-lah yang selalu menjadi prioritas utamanya dari dulu, karena ummat yang akan dirangkul kembali menuju jalan Illahi & aturan Sang Pencipta bukanlah sebatas anak-anak, namun juga remaja, orang dewasa & segala usia.

                  Yang selalu ada dalam benak Ana apabila kesulitan menghampirinya, “Aku tidak berharap Allah memberiku materi yang banyak, harta yang berlimpah atau sebuah popularitas. Yang aku harapkan hanyalah aku masih diberi kesempatan untuk mengerjakan kebaikan dan melalui setiap ujian dengan baik, sebagimana yang Robb-ku itu inginkan.¹ Karena aku yakin, Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah juga akan menolong kita.² ”.



*Note:
¹ : Seperti do’anya Umar bin Khaththab. ra
² : QS. Muhammad [47]: 7




By: Qomirah Badriyyah Ar-Rusydah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran saudara/i sangat diharapkan, demi lebih baiknya tulisan diblog ini kedepannya.
Terimakasih
Jazakumullaahu khoir :)